Jumat, 06 Januari 2012

BAB 3 INTERAKSI SOSIAL DAN DINAMIKA SOSIAL

A. Pola Interaksi Sosial Antar Komponen Masyarakat
Tentu kalian tidak asing lagi dengan istilah masyarakat. Tetapi, apakah sesungguhnya
definisi dari masyarakat tersebut? Dalam bukunya yang berjudul Pengantar IlmuAntropologi, Koentjaraningrat mengatakan masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Pandangan tersebut sekaligus menegaskan bahwa di dalam masyarakat terdapat berbagai komponen yang saling berinteraksi secara terus menerus sesuai dengan sistem nilai dan sistem norma yang dianutnya. Interaksi antar komponen tersebut dapat terjadi antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok. Lalu, apakah yang dimaksud dengan interaksi sosial tersebut? Pada dasarnya interaksi sosial merupakan sebuah proses hubungan timbal  balik yang saling mempengaruhi, baik antarindividu, antarindividu dengan kelompok, maupun antarkelompok dengan kelompok dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian dapat diketahui bahwa di dalam interaksi sosial terdapat beberapa ciri sebagai berikut: (1) jumlah pelakunya lebih dari satu orang, (2) terjadi komunikasi antarpelaku melalui kontak sosial, (3) memiliki maksud dan tujuan yang jelas, dan (4) dilaksanakan melalui suatu pola system sosial tertentu. Tindakan sosial adalah pola tindakan manusia yang dilaksanakan berdasarkan sistem nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.Secara kodrat, manusia tidak mungkin dapat melangsungkan kehidupannya seorang
diri. Artinya, setiap orang memerlukan bantuan dan pertolongan dari orang lain. Dengan
demikian, interaksi sosial merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi setiap orang
dalam kehidupan masyarakat.
1. Pola Interaksi Sosial antara Individu dengan Individu
Tentu kalian pernah berkeluh kesah, mengadukan sesuatu kepada ibu kalian. Hubungan
kalian dengan ibu kalian merupakan salah satu bentuk interaksi sosial antara individu dengan individu. Interaksi sosial antara individu dengan individu merupakan sebuah proses interaksi yang terjadi antara dua orang untuk saling mempengaruhi dalam rangka mencapai kepentingan bersama.
Dalam interaksi sosial antarindividu ini seseorang memberikan pengaruh kepada yang lain, selanjutnya orang lain tersebut memberikan tanggapan sehingga terjadilah kontak antara keduanya. Wujud interaksi sosial antarindividu antara lain dapat berbentuk saling berjabat tangan, saling bertegur sapa, saling berdebat, dan bahkan saling bertengkar. Interaksi sosial antara individu dengan individu tersebut dapat bersifat positif, yakni berupa hubungan antara dua orang yang menimbulkan hubungan yang harmonis, maupun bersifat negatif, yakni hubungan antara dua orang yang justru menimbulkan konflik. Di dalam interkasi sosial antarindividu tidak terdapat aturan main yang jelas. Yang diperlukan dalam interaksi sosial antarindividu adalah sikap saling menghormati, saling menghargai, saling bertenggang rasa, dan komitmen untuk saling menjaga hubungan. Jika interaksi sosial dilaksanakan dengan sikap dan komitmen positif seperti tersebut maka interaksi sosial akan berdampak positif. Sebaliknya, jika interkasi sosial dilaksanakan tanpa komitmen untuk saling menjaga perasaan masing-masing dapat menimbulkan dampak yang negatif seperti perkelahian, percekcokan, dan lain sebagainya.
2. Pola Interaksi Sosial antara Individu dengan Kelompok
Coba perhatikan interaksi yang terjadi di dalam kelas antara seorang guru dengan para
pelajar saat proses pembelajaran berlangsung. Interaksi seperti itu merupakan satu contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok. Berdasarkan contoh seperti ini dapat ditarik kesimpulan bahwa interaksi sosial antara individu dengan kelompok merupakan proses hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi yang terjadi antara seseorang dengan sekelompok orang dalam rangka mencapai tujuan bersama. Interaksi sosial antara individu dengan kelompok dapat terjadi dalam forum-forum yang bersifat resmi seperti kegiatan belajar mengajar di kelas antara seorang guru dengan para pelajar, kegiatan penyuluhan pertanian oleh pegawai penyuluh terhadap para petani, dan lain sebagainya. Interaksi yang bersifat resmi seperti ini sudah barang tentu membutuhkan tata tertib yang bersifat resmi pula. Disamping itu, interaksi sosial antara individu dengan kelompok juga dapat terjadi pada forum yang tidak resmi seperti interaksi antara seorang penjual obat dengan kerumunan orang di pasar yang terjadi berdasarkan ketertarikan semata sehingga tidak ada aturan yang mengikat.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat adanya interaksi sosial yang  terjadi antarkelompok dengan kelompok. Rombongan keluarga calon mempelai pria yang  berkunjung
ke kediaman keluarga calon mempelai wanita dalam rangka lamaran, dua tim sepakbola yang sedang bertanding, studi banding antara pengurus OSIS sekolah satu  dengan sekolah lainnya, dan lain sebagainya merupakan contoh-contoh interaksi sosial yang terjadi antara kelompok dengan kelompok.
Interaksi sosial antara kelompok dengan kelompok merupakan suatu hubungan  timbal
balik yang saling mempengaruhi antara sekelompok orang dengan kelompok lainnya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Pola interaksi sosial yang terjadi antara kelompok dengan kelompok ini biasanya lebih bersifat resmi, dalam arti lebih terikat oleh adanya sistem  nilai dan sistem norma yang dianut. Dua tim sepak bola akan bertanding berdasarkan  peraturan yang berlaku, keluarga calon mempelai laki-laki yang berkunjung dan melamar ke  kediaman keluarga calon mempelai wanita berdasarkan tata cara tertentu, studi banding antara  pengurus OSIS sekolah yang satu dengan pengurus OSIS sekolah yang lain akan dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama, dan lain sebagain
4. Latar Belakang Terjadinya Interaksi Sosial dalam Kehidupan Manusia
Interaksi sosial terjadi karena terpenuhinya beberapa syarat, yaitu: (1) adanya tujuan
yang jelas, (2) adanya kebutuhan yang jelas, (3) adanya kesesuaian antara sistem nilai dan sistem norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Terjadinya interaksi sosial dilandasi oleh beberapa faktor, antara lain adalah imitasi, identifikasi, motivasi, sugesti, simpati, empati, dan lain-lain.
a. Imitasi
Imitasi merupakan suatu proses sosial, yakni tindakan seseorang untuk meniru sikap,
penampilan, gaya hidup, dan apa saja yang ada pada diri orang lain. Untuk pertama kalinya
proses imitasi terjadi di lingkungan keluarga. Itulah sebabnya keluarga dianggap sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama karena di lingkungan keluargalah seseorang mulai melakukan proses peniruan atau imitasi.
b. Identifikasi
Identifikasi merupakan kecenderungan pada diri seseorang untuk menjadi sama (identik) dengan individu lain yang menjadi idolanya. Dibandingkan dengan imitasi, proses identifikasi lebih mendalam karena di dalamnya bukan saja terjadi proses peniruan tetapi juga terjadi proses penjiwaan. Fenomena identifikasi dapat diperhatikan pada perilaku para pemuda yang meniru-niru bintang idolanya.

c. Motivasi
            Motivasi merupakan dorongan yang ada pada diri seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Dilihat dari sumbernya, motivasi digolongkan atas dua macam, yakni motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang (motivasi intern) dan motivasi yang bersumber dari luar diri seseorang (motivasi ekstern). Motivasi yang bersumber dari dalam diri  seseorang (motivasi intern) akan lebih tahan lama dibandingkan dengan motivasi yang bersumber dari luar diri seseorang (motivasi ekstern).
d. Sugesti
Sugesti merupakan pengaruh-pengaruh yang diberikan oleh seseorang atau sekelompok
orang kepada seseorang atau sekelompok orang sedemikian rupa sehingga orang yang diberi sugesti tersebut akan menuruti apa yang menjadi keinginan dari si pemberi sugesti tanpa pertimbangan-pertimbangan yang bersifat rasional. Sugesti dapat berbentuk beberapa macam, seperti sikap, perilaku, pendapat, saran, anjuran, dan sebagainya yang disampaikan secara halus. Fenomena sugesti dapat diperhatikan pada interaksi antara dokter dengan pasien, interaksi antara guru dengan para pelajar, iklan obat kuat yang diperagakan oleh aktor yang gagah perkasa, dan lains sebagainya. Biasanya sugesti akan mudah mengena kepada seseorang atau sekelompok orang yang berada dalam posisi yang lemah, sakit,  tertekan, atau frustrasi.
e. Simpati dan empati
Simpati merupakan gejala kejiwan yang ditandai dengan adanya ketertarikan  terhadap
sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang atau sekelompok orang. Simpati biasanya ditandai dengan adanya rasa tertarik atau bahkan rasa cinta kepada seseorang atau sekelompom orang. Sedangkan empati merupakan agak mirip dengan simpati, yakni merupakan gejala kejiwaan tetapi dibarengi dengan perasaan organisma tubuh yang sangat dalam sehingga seolah-olah ikut merasakan penderitaan seseorang atau sekelompok orang yang terkena musibah. Misalnya, kita ikut merasa iba sampai meneteskan air mata ketika menyaksikan peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa.

B. Keteraturan Sosial Sebagai Hasil Dari Interaksi Sosial
1. Proses Interaksi Sosial
Ditinjau dari istilahnya, interaksi terdiri dari dua suku kata, yaitu inter yang berarti hubungan timbal balik dan action yang berarti tindakan. Dengan demikian istilah interaksi dapat diartikan sebagai suatu hubungan timbal balik yang terjadi antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama. Proses interaksi dapat berlangsung apabila memenuhi dua syarat, yaitu: (1) adanya kontak sosial, dan (2) adanya komunikasi. Kontak sosial merupakan peristiwa bertemunya antara satu pihak dengan pihak yang lain, baik antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok. Kontak sosial merupakan awal dari terjadinya interaksi sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari kontak sosial dapat terjadi secara langsung maupun secara
tidak langsung. Kontak sosial secara langsung misalnya adalah kontak sosial antara seorang guru dengan para pelajar dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Sedangkan kontak sosial secara tidak langsung misalnya adalah melihat pengumuman kelulusan melalui surat kabar.
Komunikasi merupakan proses saling berhubungan dan saling menyampaikan pesan antara antara dua belah pihak dengan menggunakan media tertentu. Peristiwa  komunikasi dapat terjadi dalam beberapa bentuk, seperti mendengarkan radio, menonton televisi, berbicara langsung, menulis surat, menelepon, dan lain sebagainya. Komunikasi dapat terjadi jika terdapat beberapa unsur sebagai berikut:
1. Adanya pihak yang menyampaikan pesan yang disebut dengan komunikator.
2. Adanya pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikator yang disebut dengan
massage.
3. Adanya alat atau media yang digunakan untuk memperlancar proses komunikasi.
4. Adanya pihak yang menerima pesan yang disebut dengan komunikan.
5. Adanya umpan balik (feedback) antara kedua belah pihak yang terlibat dalam
proses komunikasi.
Kontak sosial dan komunikasi antara dua pihak atau lebih itulah yang memungkinkan
terjadinya interaksi sosial dalam kehidupan masyarakat. Kontak sosial yang terjalin antara individu dengan individu, antara indidivu dengan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok tidak selalu menghasilkan komunikasi yang positif. Ada kalanya kontaksosial justru menghasilkan komunikasi yang negatif. Kontak sosial yang menghasilkan komunikasi yang positif dapat diperhatikan pada beberapa contoh komunikasi, seperti: antara dokter dengan pasien di rumah sakit, antara mahasiswa dengan dosen di kampus, antara  penceramah dengan para hadirin, antara ulama dengan para santri, dan lain  sebagainya.  Sedangkan diperhatikan pada
 beberapa contoh komunikasi, seperti: antara sekawanan penodong dengan para  penumpang bus, antara sekumpulan pemuda pecandu narkoba, antara sekumpulan  perempuan yang menggunjingkan aib temannya, dan lain sebagainya.
2. Bentuk-Bentuk Interaksi yang Mendorong Terciptanya Keteraturan Sosial
Interaksi yang mendorong terciptanya keteraturan sosial adalah interaksi yang bersifat asosiasif, yakni interaksi yang mengarah pada bentuk-bentuk asosiasi, seperti kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.
a. Kerja sama (Cooperation)
Pada dasarnya, manusia melaksanakan interaksi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, kerja sama bisa dianggap sebagai bentuk utama dari proses interaksi sosial. Kerja sama dapat diartikan sebagai bergabungnya beberapa individu untuk mencapai tujuan bersama. Salah satu contoh terdekat dari kerja sama adalah proses kehidupan keluarga. Di dalam keluarga selalu tercipta hubungan kerja sama, saling bantu, saling tolong, dan saling melengkapi untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan oleh seluruh anggota keluarga tersebut. Ditinjau dari pelaksanaannya, menurut James D. Thomson dan William J. Mc Ewen,
kerjasama dapat dibedakan atas lima bentuk, yaitu:
1. Kerukunan yang meliputi gotong royong dan tolong menolong.
2. Bargaining, yaitu kerja sama yang dilaksanakan atas dasar perjanjian mengenai
pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.
3. Kooptasi, yaitu suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan dalam
suatu organisasi untuk menghindari kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang
bersangkutan.
4. Koalisi, yaitu kerja sama yang dilaksanakan oleh dua organisasi atau lebih yang
memiliki tujuan yang sama.
5. Joint-Venture, yakni kerja sama saling berpatungan yang dilaksanakan karena adanya
pengusahaan proyek-proyek tertentu.
Kerja sama sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat tradisional Indonesia, yakni dalam
bentuk gotong royong. Fenomena gotong royong dapat diperhatikan pada tradisi sambatan pada masyarakat Jawa, tradisi gugur gunung pada masyarakat Jawa, organisasi Subak pada masyarakat Bali, organisasi Mapalus pada masyarakat Minahasa, dan lain sebagainya.

b. Akomodasi (Accomodation)
Akomodasi merupakan suatu proses penyesuaian yang terjadi melalui proses interaksi,
baik antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok untuk meredakan ketegangan. Akomodasi didahului oleh adanya
dua pihak atau lebih yang saling bertikai, untuk kemudian pihak-pihak yang saling bertikai tersebut berusaha untuk mengadakan akomodasi agar pertikaian dapat mereda. Adapun tujuan dari akomodasi antara lain adalah: (1) mengurangi perbedaan paham, pertentangan, atau permusuhan, (2) mencegah terjadinya ledakan konflik yang mengarah pada benturan pola pikir atau bahkan benturan fisik, dan (3) mengupayakan terjadinya akomodasi di antara pihak-pihak yang saling bertikai.
c. Asimilasi (Assimilation)
Asimilasi adalah sebuah proses bersatunya dua pihak yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda untuk menciptakan persatuan dan kesatuan baru. Dengan demikian
proses asimilasi diawali oleh adanya dua pihak yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda, untuk kemudian saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu yang lama, sehingga secara perlahan-lahan kebudayaan aslinya akan berubah sifat dan wujud karena membentuk kebudayaan baru. Adapun faktor-faktor yang mempercepat terjadinya proses asimilasi antara lain adalah:
1. Adanya sikap toleran, terbuka, saling menghargai, saling menerima terhadap
unsur-unsur kebudayaan yang lain.
2. Adanya sikap menghargai orang dan kebudayaan yang dianggap asing.
3. Adanya upaya untuk saling menerima dan saling memberi dari unsur-unsur
kebudayaan dari kedua belah pihak.
4. Adanya pembauran melalui kawin campur di antara kedua belah pihak.
d. Akulturasi (Acculturation)
Akulturasi merupakan bergabungnya antara dua kebudayaan tanpa melenyapkan sifat
asli dari kebudayaan itu sendiri. Proses akulturasi sering terjadi di antara dua kebudayaan yang saling berdekatan, di mana kehidupan masyarakat kedua belah pihak terjalin secara akrab dalam berbagai bidang, baik bidang sosial, bidang ekonomi, bidang politik, maupun bidang kebudayaan. Melalui hubungan seperti itu, unsur-unsur kedua belah pihak saling menyerap.
Salah satu contoh proses akulturasi yang baik adalah akulturasi antara unsur-unsur kebudayaan Jawa dengan unsur-unsur kebudayaan Islam pada saat proses masuknya agama Islam di Pulau Jawa, di mana unsur-unsur kebudayaan Jawa masih bertahan dan bahkan diperkaya dengan unsur-unsur kebudayaan Islam. Pertemuan antara kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Islam telah memunculkan satu bentuk kebudayaan baru, yakni kebudayaan Islam Jawa. Dalam proses akulturasi, terdapat unsur-unsur kebudayaan yang mudah diterima dan sekaligus terdapat unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima. Pada umumnya, unsur-unsur kebudayaan yang mudah diterima adalah: (1) unsur kebudayaan yang bersifat material atau kebendaan, (2) unsur teknologi ekonomi yang mudah dioperasikan dan secara cepat dapat dimanfaatkan, (3) unsur kebudayaan yang mudah disesuaikan dengan kondisi setempat, dan (4) unsur kebudayaan yang dampaknya tidak begitu mendalam. Sedangkan unsur- unsur kebudayaan yang sukar diterima adalah: (1) unsur kebudayaan yang keberadaannya mendasari pola pikir masyarakat, seperti sistem kepercayaan, sistem falsafah hidup, agama, dan (2) unsur kebudayaan yang sudah diterima secara meluas dalam kehidupan masyarakat, seperti sistem kekerabatan, mata pencaharian, makanan pokok, kebiasaan makan, dan lain sebagainya.
3. Bentuk-bentuk Interaksi yang Menghambat Terciptanya Keteraturan Sosial
Interaksi yang menghambat terciptanya keteraturan sosial adalah interaksi yang  bersifat
disosiasif, yakni interaksi yang mengarah pada bentuk-bentuk pertentangan atau konflik, seperti persaingan, kontravensi, dan konflik.
a. Persaingan (Competitive)
Dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemui persaingan, baik yang dilakukan oleh
seseorang maupun oleh sekelompok orang. Di sekolah terjadi persaingan antara beberapa kandidat pengurus OSIS untuk memperoleh posisi ketua. Di pedesaan terjadi persaingan antara beberapa kandidat Kepala Desa untuk memenangkan pilkades, dan lain sebagainya. Pada dasarnya persaingan merupakan suatu perjuangan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk memperoleh hasil yang diinginkan tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik dari pesaingnya. Sesungguhnya persaingan dapat diatur dan dilaksanakan secara sehat dan tertib. Akan tetapi dalam pelaksanaannya persaingan sering diwarnai dengan tindakan-tindakan yang tidak wajar sehingga menimbulkan konflik.
b. Kontravensi
Kontravensi merupakan suatu bentuk proses sosial yang menunjukkan gejala ketidaksenangan terhadap pihak lain, baik yang dinyatakan secara terang-terangan maupun secara tersembunyi. Kontravensi yang berkelanjutan dapat berubah menjadi rasa benci. Dilihat dari prosesnya kontravensi mencakup lima sub proses, yaitu:
1. Proses yang umum, yakni adanya penolakan, keengganan, gangguan terhadap
pihak lain, pengacauan terhadap rencana pihak lain, dan sebagainya.
2. Kontravensi sederhana, seperti memaki-maki, menyangkal pihak lain, mencerca,
memfitnah, dan lain sebagainya.
3. Kontravensi yang intensif, seperti penghasutan, penyebaran desas-desus, dan
sebagainya.
4. Kontravensi yang bersifat rahasia, seperti mengumumkan rahasia pihak lain,
berkhianat, dan sebagainya.
5.  Kontravensi yang bersifat taktis, seperti intimidasi, provokasi, dan lain sebagainya.
c. Pertentangan (Conflict)
Pertentangan atau konflik dapat terjadi sebagai akibat dari adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar sehingga menimbulkan jurang pemisah yang mengganggu proses interaksi sosial. Pada umumnya pertentangan atau konflik disebabkan oleh beberapa hal, antara lain adalah: (1) adanya perbedaan pendapat mengenai suatu hal yang bersifat mendasar, (2) adanya benturan kepentingan mengenai suatu objek yang sama, dan (3) adanya perbedaan sistem nilai dan sistem norma yang dianut. Wujud pertentangan atau konflik dapat berbentuk( (1) konflik antarpribadi, yakni suatu pertentangan yang bersifat perseorangan, (2) konflik antarkelompok, yakni pertentangan yang terjadi antara dua kelompok, (3) konflik peranan, yakni suatu pertentangan yang terjadi akibat seseorang atau sekelompok orang berperilaku yang sama dengan perannya, (4) konflikstatus, yakni suatu pertentangan yang terjadi sebagai akibat dari adanya perbedaan status atau kedudukan dalam masyarakat, dan (5) konflik kebudayaan, yakni suatu pertentangan yang terjadi sebagai akibat dari perbedaan kebudayaan
C. DINAMIKA SOSIAL
Dengan kelengkapan daya cipta, rasa, dan karsanya, manusia telah mencapai berbagai
penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan (knowledge) yang disusun secara rasional dan sistematis serta dapat ditelaah secara kritis oleh siapapun yang ingin mengetahuinya. Sedangkan teknologi merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip ilmu pengetahuan sehingga menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kebudayaan dan peradaban manusia. Pada umumnya para ahli dalam bidang ilmu-ilmu sosial sependapat bahwa segala fenomena yang berkembang dalam kehidupan sosial akan saling berhubungan dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Segala fenomena sosial yang berkembang
berhubungan erat dengan perkembangan dan perubahan dalam kehidupan masyarakat. Tidak terkecuali pada fenomena penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong berkembangnya industrialisasi. Selanjutnya, perkembangan industrialisasi mendorong perpindahan tenaga-tenaga kerja yang berasal dari pedesaan menuju sektor-sektor industri di perkotaan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor penting bagi terjadinya dinamika sosial. Di samping itu,
perubahan politik pemerintahan dan ekonomi suatu Negara bisa menjadi faktor pendorong terjadinya dinamika sosial. Dengan demikian dinamika sosial dapat didefi-nisikan sebagai perubahan sistem nilai masyarakat sebagai akibat perkembangan ilmu dan teknologi,
perubahan politik dan ekonomi dari suatu masyarakat
1. Perkembangan Iptek, Industrialisasi, dan Urbanisasi
Sekitar abad ke-18 para pemikir kebangsaan Inggris telah berhasil mencapai beberapa
penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Beberapa penemuan tersebut
di antaranya adalah:
a. Pada tahun 1642 Blaise Pascal menemukan mesin hitung.
b. Pada tahun 1684 Gattfired Leibnitz menemukan kalkulator yang merupakan
penyempurnaan mesin hitungnya Blaise Pascal.
c. Pada tahun 1762 James Hargreafes menemukan mesin tenun yang dikenal dengan
nama Spenning Jenney.
d. Pada tahun 1764 Rochard Arkwright dan Joseph Kay menemukan mesin tenun otomatis yang kemudian disempurnakan oleh Edmund Cartwright menemukan pada tahun 1765.
e.Pada tahun 1782 James Watt menemukan mesin uap yang dilengkapi dengan mano-meter dan pembuangan uap secara otomatis. Penemuan mesin uap ini dianggap sebagai dasar dimulainya revolusi industri di Inggris. Itulah sebabnya James Watt dianggap sebagai Bapak Revolusi Industri
f.Pada tahun 1802 Symington membuat kapal api yang kemudian disempurnakan pada tahun 1807 oleh Robert Fulton yang menciptakan kapal api yang dilengkapi dengan baling-baling sebagai penggeraknya. Kapal api tersebut dinamakan dengan Clermont.
g. Pada tahun 1804 Richard Trevithic membuat lokomotif yang kemudian disempurnakan pada tahun 1830 oleh George Stephenson yang membuat lokomotif kereta api lengkap dengan gerbongnya.
Beberapa penemuan dalam bidang ilmu pengetahuanh dan teknologi di atas telah mendorong masyarakat Inggris untuk menciptakan mesin-mesin yang mempermudah kegiatan perindustrian mereka. Maka berkembanglah mesin-mesin industri yang mendorong proses industrialisasi. Selain penemuan mesin-mesin industri di atas, pada abad ke-18 juga berkembang pemikiran-pemikiran baru dalam bidang perekonomian seperti Robert Maltus, Adam Smith, John Stuart Mill, dan lain sebagainya. Beberapa pemikiran baru dalam bidang perekonomian tersebut turut mendorong perkembangan peindustrian di Inggris. Dalam keadaan seperti itu, kegiatan produksi yang semula diproses dengan menggunakan tenaga otot, baik tenega manusia maupun tenaga hewan, segera digantikan dengan tenaga mesin yang lebih efisien dan efektif. Dengan kata lain, sistem padat karya digantikan dengan sistem padat modal.
Pusat-pusat industri bermunculan di kota-kota besar segera mendorong penduduk desa
untuk berbondong-bondong pergi ke kota dalam rangka mencari pekerjaan. Arus urbanisasi yang mengalami peningkatan secara pesat ternyata menimbulkan masalah baru. Seperti yang diketahui bahwa keberadaan mesin-mesin industri telah merubah sistem produksi bukan lagi padat karya melainkan padat modal. Akibatnya, terjadi penumpukan kaum urban di perkotaan karena tidak terserap di sektor industri. Bagai rantai yang saling kait mengkait, penumpukan kaum pengangguran berturut-turut menimbulkan beberapa masalah, yakni
kemiskinan, kriminalitas, penyakit, dan lain sebagainya.

Rangkuman

Pada dasarnya interaksi sosial merupakan sebuah proses hubungan timbal  balik yang
saling mempengaruhi, baik antarindividu, antara individu dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian dapat diketahui bahwa di dalam interaksi sosial terdapat beberapa ciri sebagai berikut: (1) jumlah pelakunya lebih dari satu orang, (2) terjadi komunikasi antarpelaku melalui kontak sosial, (3) memiliki maksud dan tujuan yang jelas, dan (4) dilaksanakan melalui suatu pola system sosial tertentu. Tindakan sosial adalah pola tindakan manusia yang dilaksanakan berdasarkan sistem nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.Interaksi social terjadi dalam tiga pola yaitu:
1. antarindividu,
2. antara individu dengan kelompok
3. antara kelompok dengan kelompok
Interaksi sosial terjadi karena terpenuhinya beberapa syarat, yaitu: (1) adanya tujuan yang jelas, (2) adanya kebutuhan yang jelas, (3) adanya kesesuaian antara sistem niali dan sistem norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Terjadinya interaksi sosial dilandasi oleh beberapa faktor, antara lain adalah imitasi, identifikasi, motivasi, sugesti, simpati, empati, dan lain-lain.
Interaksi dapat menghasilkan keteraturan social. Tetapi, interaksi juga bias menghambat terciptanya keteraturan social. Bentuk-Bentuk Interaksi yang Mendorong Terciptanya Keteraturan Sosial diantaranya:
1. Kerja sama (Cooperation)
2. Akomodasi (Accomodation)
3. Asimilasi (Assimilation)
4. Akulturasi (Acculturation)
Bentuk interaksi yang menghambat keteraturan social antara lain:
1. Persaingan (Competitive)
2. Kontravensi
3. Pertentangan (Conflict)
Dengan adanya proses interaksi social, maka dalam masyaraat akan tercipta sebuah
dinamika social.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pages

Advertisement (468 x 60px )