Jumat, 06 Januari 2012

BAB 4 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

A. Pengertian Sosialisasi
Secara sosiologis sosialisasi dapat diartikan sebagai suatu proses sosial yang mana seseorang belajar menghayati dan melaksanakan sistem nilai dan sistem norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat di mana ia berada. Biasanya proses sosialisasi tidak bisa dipisahkan dengan proses enkulturasi. Enkulturasi merupakan sebuah proses pembelajaran kebudayaan yang meliputi falsafah, bahasa, seni, adat-istiadat, dan kebiasaan yang ada di lingkungan masyarakat sehingga terbentuk sebuah kepribadian. Dengan demikian sosialisasi merupakan suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur kebudayaan, adat istiadat, bahasa, perilaku, kebiasaan, dan sebagainya yang terdapat dalam kehidupan masyarakat sehingga seseorang dapat berpikir, bersikap, dan berperilaku secara serasi, selaras, dan seimbang.

Macam-macam Sosialisasi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa sosialisasi berlangsung sepanjang hayat manusia. Secara garis besar sosialisasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi skunder.
a. Sosialisasi primer merupakan proses sosialisasi yang pertama dan utama yang terjadi pada seseorang, yakni sejak dilahirkan, berkenalan dan sekaligus belajar  bermasyarakat sehingga dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat tersebut.
b. Sosialisasi skunder merupakan proses sosialisasi seseorang terhadap hal-hal baru yang bisa diterima dalam kehidupan masyarakat. Biasanya sosialisasi skunder terjadi pada seseorang yang berperilaku menyimpang. Karena perilaku menyimpang merupakan suatu bentuk desosialisasi, maka harus diikuti dengan proses resosialisasi.  Desosialisasi merupakan suatu proses pencerabutan sistem nilai dan sistem norma dari dalam diri seseorang sehingga kehilangan identitas sosial. Seseorang yang mengalami proses desosialisasi kepribadiannya akan mengalami kekacauan sehingga terjadilah perilaku menyimpang tersebut. Untuk mengembalikan pada kehidupan normal harus dilakukan proses resosialisasi yakni suatu proses untuk menanamkan kembali sistem nilai dan sistem norma kepada seseorang agar dapat diterima secara layak dalam kehidupan bermasyarakat. Proses resosialisasi dapat kita perhatikan di pusat-pusat rehabilitasi
terhadap anak-anak nakal, lembaga pemasyarakatan, rumah sakit jiwa, dan lain sebagainya.

B. Sistem Nilai Dan Sosialisasi
Di dalam kehidupan sosial berkembang beberapa sistem nilai. Secara garis besar system nilai tersebut dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) sistem nilai yang berhubungan dengan benar dan salah yang disebut dengan logika, (2) sistem nilai yang berhubungan dengan baik dan buruk atau pantas dan tidak pantas yang disebut dengan etika, dan (3) sistem nilai yang berhubungan dengan indah dan tidak indah yang disebut dengan estetika.

Macam-macam Sosialisasi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa sosialisasi berlangsung sepanjang hayat manusia. Secara garis besar sosialisasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi skunder.
a. Sosialisasi primer merupakan proses sosialisasi yang pertama dan utama yang terjadi pada seseorang, yakni sejak dilahirkan, berkenalan dan sekaligus belajar  bermasyarakat sehingga dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat tersebut.
b. Sosialisasi skunder merupakan proses sosialisasi seseorang terhadap hal-hal baru yang bisa diterima dalam kehidupan masyarakat. Biasanya sosialisasi skunder terjadi pada seseorang yang berperilaku menyimpang. Karena perilaku menyimpang merupakan suatu bentuk desosialisasi, maka harus diikuti dengan proses resosialisasi.  Desosialisasi merupakan suatu proses pencerabutan sistem nilai dan sistem norma dari dalam diri seseorang sehingga kehilangan identitas sosial. Seseorang yang mengalami proses desosialisasi kepribadiannya akan mengalami kekacauan sehingga terjadilah perilaku menyimpang tersebut. Untuk mengembalikan pada kehidupan normal harus dilakukan proses resosialisasi yakni suatu proses untuk menanamkan kembali sistem nilai dan sistem norma kepada seseorang agar dapat diterima secara layak dalam kehidupan bermasyarakat. Proses resosialisasi dapat kita perhatikan di pusat-pusat rehabilitasi
terhadap anak-anak nakal, lembaga pemasyarakatan, rumah sakit jiwa, dan lain sebagainya.


C. Tahap-Tahap Pembentukan Kepribadian
Proses sosialisasi berlangsung sepanjang hidup manusia melalui tahapan-tahapan yang
terdiri dari tahap persiapan, tahap meniru, tahap siap bertindak, dan tahap penerimaan nor-ma kolektif.
1. Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
Tahap persiapan (Preparatory Stage) merupakan tahap persiapan bagi manusia untuk mengenali diri dan lingkungan sekitarnya. Tahap ini berlangsung ketika manusia dilahirkan, yakni dengan kemampuan berpikirnya manusia mengawali proses kehidupannya dengan melakukan kegiatan meniru meskipun pada awalnya manusia tidak paham tentang apa yang ditirunya. Lingkungan keluarga sangat berperan dalam proses sosialisasi pada tahap
persiapan ini.
2. Tahap Meniru (Play Stage)
Pada tahap meniru (play stage) ini kemampuan anak dalam berempati terhadap orang
lain semakin meningkat. Kesadaran anak bahwa dunia sosial terdiri dari kumpulan dari beberapa orang mulai berkembang. Pada tahap ini anak-anak mulai mampu menirukan beberapa peran orang dewasa secara relatif sempurna. Misalnya anak mulai bermain mobil- mobilan, polisi-polisian, perang-perangan, pasar-pasaran, bercakap-cakap dengan boneka, dan lain sebagainya. Dalam tahap ini anak memerlukan lingkungan yang kondusif yakni lingkungan yang mendukung perkembangan potensinya. Disamping itu, anak-anak pada tahap ini memerlukan figur-figur yang dianggap sangat berarti (significant other) agar dapat belajar tentang sistem nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
3. Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
Pada tahap ini anak mulai sadar bahwa dirinya merupakan bagian dalam system kehidupan sosial sehingga proses peniruan semakin berkurang dan digantikan oleh permainan yang diperankan secara sadar. Kemampuan empati anak pada tahap ini semakin berkembang sehingga anak mulai mampu bermain beregu yang penuh dengan aturan main seperti bermain sepak bola. Pada tahap ini anak juga mulai siap untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat.
4. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Other)
Tahap penerimaan norma kolektif (generalized other) merupakan suatu tahap seseorang  mulai dewasa dan mulai mampu memposisikan dirinya dengan baik dalam kehidupan masyarakat  luas. Pada tahap ini seseorang mulai paham terhadap posisi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat,  agama, bangsa dan negara. Sistem nilai dan sistem norma mulai membentuk sistem kepribadian  sehingga seseorang mulai paham terhadap segala konsekuensi sebagai anggota keluarga, anggota  masyarakat, penganut agama, dan sebagai warga negara yang baik. Memasuki tahap penerimaan norma kolektif generalized other) ini seseorang mulai paham tentang arti penting peraturan, tata tertib, undang-undang, dan sejenisnya. Kemampuan menjalin hubungan kerja sama dengan orang lain pun semakin sempurna sehingga layak menjadi warga masyarakat yang sesungguhnya.
Tahap-tahap sosialisasi seperti di atas tidak mungkin dapat berlangsung secara individual.
Proses sosialisasi hanya dapat berlangsung melalui adanya keterlibatan orang lain.  dengan  demikian seseorang tidak mungkin dapat dipisahkan dengan lingkungan  masyarakat. Pada  keduanya terjalin hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Lingkungan masyarakat
berperan terhadap seseorang dalam proses mengenal, meniru, dan menyesuaikan diri dengan
sistem nilai dan sistem norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Sebaliknya, sistem
nilai dan sistem norma yang ada dalam kehidupan masyarakat tersebut akan lestari jika proses
sosialisasi pada seseorang berlangsung dengan baik.

D. Pembentukan Kepribadian
Kepribadian merupakan ciri perwatakan seseorang yang khas dan konsisten yang memberikan identitas tertentu sehingga berbeda dengan orang lain. Seperti yang telah  diuraikan dalam pembahasan di atas, kepribadian terbentuk melalui proses panjang karena berlangsung melalui fase-fase sosialisasi yang melibatkan unsur-unsur fisik, psikologis, dan sosiologis. Ketiga unsur tersebut secara simultan akan membentuk kebiasaan, sifat, dan sikap yang secara khas dimili oleh seseorang.
Faktor fisik dan psikologis merupakan landasan yang sangat berperan dalam pembentukan kepribadian. Seorang yang cekatan, temperamental, murah senyum,  pendiam, periang, dan lain sebagainya sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik maupun psikologis  seseorang.  Sedangkan faktor sosiologis merupakan faktor penunjang yang tidak kalah pentingnya. Seseorang tidak mungkin dapat bergaul dengan masyarakat di lingkungannya dan tidak mungkin dapat menjalin hubungan kerja sama dengan baik tanpa terlebih  dahulu mempelajari kehidupan sosial secara nyata. Meskipun seseorang memiliki sifat-sifat yang khas, akan tetapi juga harus memperhatikan pola-pola perilaku yang bersifat umum.  Dengan demikian, faktor fisik, psikologis, dan sosiologis sama-sama memegang peran yang besar dalam pembentukan kepribadian.

E.  Peran Media Sosialisasi Dalam Pembentukan Kepribadian
Proses sosialisasi tidak dapat berlangsung secara otomatis. Sosialisasi dalam terjadi manakala terdapat media yang menjembatani seseorang dalam mengenal sistem nilai dan system norma yang ada dalam kehidupan nyata. Beberapa media yang berperan dalam membantu proses sosialisasi seseorang adalah keluarga, teman sepermainan, sekolah, lingkungan kerja, media massa, dan lain sebagainya.
1. Keluarga
Keluarga merupakan organisasi manusia yang terdiri ayah, ibu, anak, dan mungkin juga kerabat lain yang menjalankan fungsi dan perannya secara konstan. Keluarga merupakan organisasi masyarakat yang terkecil. Dalam lingkungan keluarga inilah seseorang untuk pertama kalinya mengenal sistem nilai dan sistem norma yang mengatur peri kehidupan melalui pergaulan hidup yang berlangsung sehari-hari. Tidak salah jika dikatakan bahwa keluarga merupakan tempat proses sosialisasi yang pertama dan utama. Secara naluriah, orang tua di dalam sebuah keluarga selalu mencurahkan perhatian kepada anak-anak mereka. Keluarga yang harmonis biasanya berhasil mengantarkan anak-anak menuju jenjang kedewasaan sehingga siap untuk terjun pada kehidupan yang sesungguhnya secara mandiri. Sebaliknya, keluarga yang broken home biasanya membuat anak-anak mengalami kekecewaan dan frustrasi sehingga mengalami kegagalan dalam menempuh hidup lebih jauh. Dalam hubungan ini Ki Hajar Dewantoro memberikan tiga
prinsip dasar dalam mendidik anak, yakni:
1. Ing Ngarso Sung Tuladha, yang berarti orang tua harus memberikan teladan yang baik
dan mulia bagi anak-anak.
2. Ing Madya Mangun Karsa, yang berarti orang tua harus membangkitkan segala potensi,
minat, dan bakat yang ada pada anak.
3. Tut Wuri Handayani, yang berarti orang tua harus sanggup memberikan motivasi atau
dorongan semangat bagi anak-anak mereka dalam meraih cita-cita hidup ke depan.
2. Teman Sepermainan
Teman sepermainan merupakan sekelompok orang dekat yang memiliki tingkat umur
yang sebaya dan di antara mereka sering terlibat dalam sebuah interaksi yang intensif. Biasanya teman sepermainan dijadikan ajang untuk saling nertukar pikiran, berbagi rasa, berkeluh kesah, dan berbagai macam penyaluran aspirasi lainnya. Di antara teman sepermainan sering terjalin hubungan cukup. kedekatan. Karena intensitas komunikasi yang cukup tinggi, maka teman sepermainan merupakan media komunikasi yang cukup berpengaruh bagi pembentukan kepribadian seseorang. Pada dasarnya teman sepermainan merupakan salah satu media sosialisasi yang sangat penting. Namun demikian lingkungan keluarga harus memberikan perhatian secara bijaksana karena disamping memberikan dampak positif teman sepermainan juga bisa memberikan dampak negatif bagi perkembangan anak. Dampak positif dari teman sepermainan dapat diperhatikan pada interaksi yang melibatkan potensi intelektual, emosional, dan bahkan spiritual sehingga perkembangan jiwa, semangat mandiri, aktivitas, dan kreativitas seseorang akan terpacu dengan baik. Namun demikian, jika karakter negatif lebih mendominasi lingkungan teman sepermainan tersebut kita harus mewaspadai timbulnya dampak negatif bagi perkembangan anak. Berkembangnya kehidupan geng dan klik di kalangan anak jalanan merupakan contoh dari pengaruh negatif teman sepermainan. Geng dan klik merupakan sekumpulan orang yang tidak memiliki sturktur organisasi secara formal namun memiliki pandangan dan kepentingan yang sama dan biasanya gemar membuat keonaran di masyarakat.

3. Sekolah
Sekolah merupakan sebuah lembaga yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan secara
formal. Di sekolah pula terdapat beberapa komponen yang memungkinkan terselenggaranya
proses pendidikan, yakni pelajar, pengajar, media belajar, lingkungan belajar, dan tujuan pembelajaran. Sedangkan pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkan segenap
potensi, bakat, dan minat seseorang sehingga dapat berkembang menjadi manusia yang dewasa. Dalam hubungannya dengan proses sosialisasi setidak-tidaknya sekolah mengemban dua peranan yang sangat penting, yaitu:
(1)  memperkenalkan sistem nilai dan sistem norma yang berlaku di masyarakat sehingga terbentuk kepribadian seperti yang diharapkan, dan
(2) mengembangkan potensi para pelajar sehingga para pelajar memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan pemahaman yang sangat diperlukan dalam kehidupan nyata. Sekolah sangat berperan untuk mengantarkan para pelajar agar menjadi dirinya sendiri dengan baik.

Untuk itu sekolah mengemban beberapa fungsi seperti:
a.  Mengembangkan potensi para pelajar agar memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan dalam kehidupannya kelak.
b. Mewariskan dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan yang telah terbina secara tradisional sehingga akan tetap terjaga kelestariannya.
c. Membina para pelajar untuk menjadi warga negara yang baik, berjiwa demokratis, berwawasan kebangsaan.
d. Membina para pelajar untuk menjadi manusia-manusia yang berjiwa religius, yakni     manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Proses pendidikan yang diselenggarakan di sekolah akan berhasil secara maksimal apabila didukung oleh proses pendidikan yang berlangsung di dalam keluarga dan dimasyarakat. Keluarga, masyarakat, dan sekolah merupakan tiga pusat pendidikan atau dikenal dengan istilah Tri Pusat Pendidikan yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan kepribadian seseorang.
4. Lingkungan Kerja
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, salah satu peranan sekolah adalah mengantarkan seseorang pada dunia kerja secara profesional. Melalui pendidikan di sekolah seseorang berhasil menjadi tentara, dokter, guru, jaksa, hakim, perawat, insinyur, pedagang, pengusaha, dan lain sebagainya. Pekerjaan seperti ini telah menuntut seseorang untuk selalu berada di lingkungan tertentu yang membedakan dengan lingkungan yang lain. Lingkungan pendidik berbeda dengan lingkungan militer, lingkungan pers, lingkungan rumah sakit, pasar, dan lain sebagainya. Karakteristik yang ada di lingkungan kerja lambat laun akan mengendap pada diri seseorang dan membentuk kepribadian yang khas. Itulah sebabnya terdapat perbedaan antara ciri-ciri seorang guru dengan ciri-ciri seorang tentara yang tegas dan disiplin, seorang dokter yang serius, seorang wartawan yang banyak bicara, seorang pedagang penuh perhitungan, dan lain sebagainya.
5. Media Massa
Seperti istilahnya, media massa merupakan sebuah media yang mengundang perhatian orang banyak. Secara garis besar media massa dibedakan atas dua bagian, yaitu media cetak seperti buku, koran, tabloit, majalah dan media elektronik seperti radio, internet, film, dan TV. Media massa merupakan alat komunikasi yang sanggup menjangkau masyarakat luas. Apa yang dilihat, dibaca, dan didengar dari media massa membawa pengaruh bagi perkembangan intelektual, pengetahuan, dan bahkan kepribadian seseorang. Sesuai dengan daya jangkaunya yang amat luas, seseorang harus memiliki daya saring yang tangguh sebab tidak semua informasi yang disadap bersifat positif. Misalnya, berita dan tayangan yang bersifat liberalis sekuler tentu tidak akan sesuai bagi masyarakat yang memegang teguh tradisi religius. Namun secara umum media massa memegang tiga fungsi utama, yakni fungsi informasi, fungsi hiburan, dan fungsi pendidikan. dengan tiga fungsi seperti ini kehadiran media massa sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat.

Secara sosiologis sosialisasi dapat diartikan sebagai suatu proses sosial yang mana seseorang belajar menghayati dan melaksanakan sistem nilai dan sistem norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat di mana ia berada. Secara garis besar sosialisasi dibedakan menjadi dua macam jenis, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi skunder.
1. Sosialisasi Primer
2. Sosialisasi Skunder
Di dalam kehidupan sosial berkembang beberapa sistem nilai. Secara garis besar system nilai tersebut dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) sistem nilai yang berhubungan dengan benar dan salah yang disebut dengan logika, (2) sistem nilai yang berhubungan dengan baik dan buruk atau pantas dan tidak pantas yang disebut dengan etika, dan (3) sistem nilai yang berhubungan dengan indah dan tidak indah yang disebut dengan estetika.
Sosialisasi terjadi dalam beberapa tahapan, antara lain:
1. Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
2. Tahap Meniru (Play Stage)
3. Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
4. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Other)
Sosialisasi dalam terjadi manakala terdapat media yang menjembatani seseorang dalam mengenal sistem nilai dan sistem norma yang ada dalam kehidupan nyata. Beberapa media yang berperan dalam membantu proses sosialisasi seseorang adalah keluarga, teman sepermainan, sekolah, lingkungan kerja, media massa, dan lain sebagainya. Dengan adanya media ini, maka proses sosialisasi akan berjalan dan pada akhirnya
akan melahirkan kepribadian tertentu pada individu
Pola-pola sosialisasi
Sosialisaisi dapat dilakukan dalam dua bentuk, yaitu :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages

Advertisement (468 x 60px )